Kemarin (15/6) pihak perusahaan telepon pintar (smartphone) ternama yang memproduksi produk ternama Blackberry yaitu Research In Motion (RIM) telah bertemu dengan Badan Regulator Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk membahas mengenai nasib bisnis Blackberry di Indonesia. Pertemuan ini dihadiri oleh delegasi RIM yaitu Robert E. Crow dan diterima oleh seluruh anggota BRTI kecuali Ketua. Salah satu yang menjadi isu dalam diskusi tersebut adalah maraknya produk Blackberry kloning yang beredar di masyarakat.
Namun demikian tidak ada yang memungkiri bahwa perkembangan Blackberry di Indonesia setahun belakangan cukup pesat ditandai dengan kesediaan tiga operator seluler ternama seperti Indosat, Telkomsel, dan XL bersedia menjadi vendor lokal penyedia jaringan. Bahkan dalam setahun terakhir ini pertumbuhannya mencapai 500%. Saat ini pun pengguna Blackberry di Indonesia telah mencapai 400 ribu orang. Namun demikian perkembangan bisnis Blackberry di Indonesia masih belum diimbangi secara optimal dengan layanan purna jualnya karena belum ada gerai Blackberry di Indonesia. Blackberry resmi di Indonesia pun hanya dapat diperoleh melalui operator tertunjuk tersebut. Selain itu Blackberry non operator merupakan Blackberry BM alias Black Market. Sebenarnya bagaimana positioning Blackberry di Indonesia?
Blackberry (BB) sendiri diperkenalkan oleh pengembangnya yang merupakan perusahaan dari Kanada yaitu RIM tahun 1997. Penetrasi BB di Indonesia dilakukan melalui jalur kerjasama strategis dengan vendor operator lokal yaitu Indosat. Apa sebenarnya yang menyebabkan BB sangat diminati sehingga menangguk perkembangan penjualan yang cukup pesat? BB menjawab pertanyaan tersebut dengan memperkenalkan produk utamanya yaitu push e-mail yang menawarkan real time e-mailing hampir sama seperti layanan SMS. Sehingga pengguna tidak perlu direpotkan dengan harus membuka akun email melalui browser. Selain itu kompresi email melalui BB bisa sampai 1/10 dari ukuran aslinya tanpa mengurangi konten email. Kemampuan BB dalam menampilkan perangkat Office dan pembaca format PDF pun juga cukup baik.
Teknologi push mail tersebut disupport oleh teknologi Blackberry Enterprise Server+ (BES+) yang utamanya diperuntukkan bagi pelanggan korporasi yang intensif dalam menggunakan email masuk. intensitas akan menyebabkan BB menjadi hang asalkan masih ada memory di dalamnya. BES+ sendiri merupakan gabungan antara BES dan BIS (Blackberry Internet Service). BES adalah perangkat yang digunakan oleh jaringan e-mail yang berbasis Microsoft Exchange, Lotus Domino, dan Novell Group Wise. Khusus pada pengguna individu, mereka dapat menggunakan layanan e-mail nirkabel yang disediakan oleh provider tanpa harus menginstalasi BES. Para pengguna individu dapat menggunakan Blackberry Internet Solution tanpa harus menginstalasi BES di smartphone mereka. BES memang ditujukan bagi pelanggan korporasi dengan cakupan usaha yang besar. Perangkat lunak ini mengintegrasikan seluruh smartphone Blackberry pada suatu organisasi dengan sistem perusahaan yang telah ada sehingga memudahkan pengguna untuk dapat selalu berkomunikasi aktif dengan cara yang aman. Sedangkan BIS merupakan perangkat lunak yang diperuntukkan bagi pengguna pribadi sehingga memungkinkan Anda untuk mengintegrasikan smartphone dengan 10 akun e-mail yang berbasis Post Office Protocol (POP3) dan Internet Message Access Protocol (IMAP), menerima dan mengirim pesan instan, serta berselancar di Internet. Dengan BIS, kita juga dapat membuka tambahan data (attachment) dalam bentuk excel, word, powerpoint, pdf, zip, jpg, gif dengan tingkat kompresi data yang tinggi. Sejatinya masih ada layanan BPS (BB Professional Software) dan B-MDS (Blackberry Mobile Data System) namun masih belum dikenal di Indonesia.
Namun demikian konsumen perlu waspada terhadap penggunaan gadget BB ini jika dilakukan secara berlebihan. Pengguna akan dibuat tidak dapat lepas dari perangkat ini karena kemudahannya untuk mengakses email/instant message (seperti Yahoo Messenger). Kecanduan BB ini yang sering disebut sebagai CrackBerry. Gejala Crackberry akut dapat dilihat dari tidak konsennya pemegang BB terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya karena seluruh perhatian pengguna ada di BB yang dia bawa. Hal ini tentu saja dapat menjadi hal yang kontraproduktif terhadap kehidupan sosial jika dalam derajat tertentu pengguna sudah kecanduan.
Di satu sisi jika kita melihat di kanan kiti kita penggunaan BB telah menjadi sesuatu hal yang lumrah bukan tidak mungkin dampak negatif penggunaan BB berupa Crackberry tersebut akan juga dialami oleh konsumen BB di Indonesia. Namun demikian di sisi lain tingginya minat konsumen Indonesia terhadap BB juga seharusnya juga dapat disikapi oleh pihak RIM dalam meningkatkan kualitas layanan (level of services) tidak hanya prajual namun juga sampai pada level purnajual. Servis ini juga yang sampai dengan pertemuan RIM dengan BRTI kemarin masih juga belum dilakukan karena gerai RIM sendiri belum resmi ada di Indonesia. Hal juga sebagai jawaban atas keluhan BB di berbagai negara termasuk Indonesia atas maraknya penjualan BB BM dan kloningannya. Ini juga menjadi tantangan bagi RIM untuk selalu meningkatkan kualitas level of services.





0 Comments:
Post a Comment